MAKALAH CABANG CABANG FILSAFAT
DI
SUSUN
OLEH
:
KELOMPOK
3
Dian
PutriYeni (150208006)
Habibah
(150208014)
Ghinawati
(150208019)
DOSEN
PEMBIMBING :FauzaAndriyadi,S.H.I,M.S.I.

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI AR-RANIRY
TAHUN AJARAN
2016/2017
BAB I
A. Latar Belakang
Filsafat ilmu adalah dua
kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena
kelahiran suatu ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan
ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan
pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi yang akhirnya lenyap dan
pada gilirannya rasiolah yang dominan.
Perkembangan filsafat tidak berhenti begitu
saja, hingga saat ini kita mengenal berbagai versi dalam pembagian
cabang-cabang dari filsafat itu sendiri.Dari sekian banyak versi tersebut,
tentulah ada cabang-cabang filsafat yang banyak digunakan saat ini. Oleh karena
itu,
Tulisan kali ini masuk
pada pembahasan sistematika filsafat. Dilihat dari judulnya cukup asing
bagi orang yang belum mendalami
mata kuliah filsafat ilmu. Dari beberapa
buku kami temukan bahwa yang dinamakan sistematika filsafat terdiri dari tiga
model: Ontologi (wujud/hakikat).
Epistemologi (teori
pengetahuan) dan Aksiologi (nilai/guna). Terkadang tiga model sistematika
filsafat itu dimasukkan pula ke dalam aliran, madzhab atau cabang-cabang dalam
filsafat.
Digabungkan dengan
metafisika, etika, logika dan lain-lain. Padahal tiga sistematika filsafat
tersebut masih melahirkan cabang-cabang dalam filsafat yang akan akan kami
jelaskan dalam sub tema di bawah ini.
B. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas, maka penulis akanmerumuskan masalah, diantaranya adalah:
1.
Apa pengertiandari filsafat?
2.
Apacabang cabang utama dari filsafat?
3.
Apa itu Logika filsafat?
4.
Apa yang dimaksud Aksiologi filsafat
dan aliran-alirannya?
C.Tujuan
1. Mengetahui pengertian tentang Metafisika Filsafat dan
cabang-cabangnya.
2. Mengetahui definisi dari Epistemologi, Aksiologi, Ontologi
Filsafat.
3. Mengetahui pengertian Logika Filsafat.
4. Mengetahui cabang utama Filsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Filsafat
Ilmu
Filsafat ilmu
merupakan bagian dari filsafat
yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari
dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya
antara lain ilmu alam dan ilmu sosial.
Filsafat ilmu berusaha untuk dapat
menjelaskan masalah-masalah seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan
pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan,
bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui
teknologi.
Selain itu, filsafat ilmu juga berusaha
menjelaskan cara menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan
penggunaan metode ilmiah, macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk
mendapatkan kesimpulan, serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap
masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Adapun
beberapa pengertian dari filsafat yaitu :
1) Filsafat
adalah suatu metode berpikir reflektif dan metode pencarian yang beralasan. Ini bukanlah metoda filsafat yang eksklusif tetapi merupakan
metode berpikir yang akurat dan sangat berhati-hati terhadap seluruh
pengalaman.
2) Filsafat
adalah kumpulan masalah. Filsafat dikatakan sebagai kumpulan masalah. Ini
maksudnya adalah bahwa sejak dahulu sampai sekarang banyak
masalah yang sangat mendasar yang masih tidak terpecahkan . Meskipun para
filsuf telah banyak mencoba memberikan jawaban .Seperti pertanyaan apakah kebenaran itu?Apakah
keindahan itu? dan apakah perbedaan antara benar dan salah?
3) Filsafat
merupakan kumpulan teori atau
sistem-sistem pemikiran. Filsafat berarti teori-teori filosofik yang beraneka ragam atau
sistem-sistem pemikiran yang telah
muncul dalam sejarah.[1]
B.
Cabang Utama Filsafat
Filsafat secara umum terbagi duayaitu :filsafat teoritis dan filsafat
praktis. Yang termasuk filsafat teoritis adalah: ontologi (metafisika), dan
epistemologi. Sedangkan aksiologi adalah filsafat praktis.
Filsafat Teoritis :
a.
Ontologi
Ontologi kerap disebut juga metafisika
atau filsafat pertama.Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu on atau
ontos yang berarti ada atau keberadaan dan logos yang bermakna
studi atau ilmu tentang.
Karena itu, ontologi berarti ilmu
tentang ada.Dengan
kata lain, ontologi adalah cabang filsafat yang mengupas masalah.
b.
Epistemologi
Kata
epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme( pengetahuan , ilmu
pengetahuan) dan logos (pengetahuan, informasi). Jadi, epistemologi
dapat berarti “pengetahuan tentang pengetahuan” atau teori
pengetahuan.Singkatnya, epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas
tentang pengetahuan.
Filsafat Praktis yaitu :
c.
Aksiologi
Aksiologi berakar kata axios (layak,pantas), dan logos
(ilmu, studi mengenai). Jadi, aksiologi adalah studi filosofis tentang
hakikat nilai-nilai.[2]
C. Cabang-Cabang
Filsafat
Pada
awal perkembangannya, filsafat meliputi keseluruhan jenis ilmu pengetahuan.Pada
masa ini pengetahuan belum terpecah-pecah dan tersesialisasi. Namun dalam
perkembangan berikutnya, tepatnya pada masa Renaissance abad ke-17 M dan
sesudahnya, ilmu-ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat luar biasa
dan akhirnya memisahkan diri dari filsafat.
Setelah
filsafat “pecah” menjadi berbagai disiplin ilmu, aktifitas filsafat tidak mati,
tetap masih hidup dengan corak baru, yaitu sebagai “ilmu istemewa” yang mencoba
memecahkan masalah yang tetap terpecahkan oleh ilmu. Yang menjadi masalah
adalah, apa sajakah yang masih menjadi bagian filsafat dalam coraknya yang baru
tersebut. Persoalan ini membawa kita kepada perbincangan tantang cabang-cabang
filsafat.
Banyak
para filsuf yang membagi filsafat ilmu menjadi berbagai cabang, seperti H. De
Vos, Prof. Albuerey Castell, Dr. M. J. Langeveld, Aristoteles, dan
lain-lain.Setiap filsuf memiliki perbedaan dalam membagi cabang-cabang filsafat
ilmu.Walaupun ada perbedaan dalam pembagiannya, namun tentu saja lebih banyak
persamaanya.
Setiap
ahli filsafat mempunyai pembagian filsafat yang berbeda-beda.Berikut ini ditampilkan
beberapa klasifikasi cabang-cabang filsafat.
M.J.
Langeveld membagi filsafat dalam tiga masalah utama:
a.
Lingkungan
masalah-masalah keadaan (metafisika manusia, alam, dan segala ciptaan Tuhan).
b.
Lingkungan
masalah-masalah pengetahuan (teori kebenaran, teori pengetahuan, dan logika).
c.
Lingkungan
masalah-masalah nilai (teori nilai, etika, estetita, moral, yang bernilai
berdasarkan religi).
De
Vos, dalam E.N.S.I.E. (Eerste Nederlandse Systematich Ingeriche Encyclopaedie),
menggolongkan cabang-cabang filsafat sebagai berikut:
a.
Metafisika
b.
Logika
c.
Ajaran
tentang ilmu pengetahuan
d.
Filsafat
alam
e.
Filsafat
kebudayaan
f.
Filsafat
sejarah
g.
Etika
h.
Estetika
i.
Antropologi
Alburey
Castell, guru besar filsafat di University of Oregon, membagi masalah-masalah
filsafat atas enam bagian, yaitu:
a.
Theological
problem (masalah teologis)
b.
Metafisikal
problem (masalah metafisika)
c.
Epistemological
problem (masalah epitemologi)
d.
Ethical
problem (masalah etika)
e.
Political
problem (masalah politik)
f.
Historical
problem (masalah sejarah)
Will
Durrant, dalam bukunya yang berjudul The Story of Philosophy, menemukakan lima
cabang filsafat sebagai berikut:
a.
Logika
b.
Estetika
c.
Etika
d.
Politika
e.
Metafisika
Aristoteles
membagi filsafat ke dalam tiga bidang studi:
a.
Filsafat
spekulatif atau teoritis, filsafat teoritis atau spekulatif bersifat objektif.
Termasuk dalam bidang ini ialah fisika, metafisika, biopsikologi, dan
sebagainya. Tujuan utama filsafat spekulatif ialah pengetahuan demi pengetahuan
itu sendiri.
b.
Filsafat
praktika, filsafat praktika memberi petunjuk danpedoman bagi tingkah laku
manusia yang baik dan sebagaimana mestinya. Termasuk dalam bidang ini adalah
etika dan politik. Sasaran penting bagi filsafat praktika ialah membentuk sikap
dan perilaku yang akan memampukan manusia untuk bertindak dalam terang
pengetahuan itu.
c.
Filsafat
produktif. Filsafat produktif adalah pengetahuan yang membimbing dan menuntun
manusia menjadi produktif lewat suatu keterampilan khusus. Termasuk dalam
bidang ini ialah kritik sastra, retorika, dan estetika. Adapun sasaran utama
yang hendak di capai ialah agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu, baik
secara teknis maupun secara puitis dalam terang pengetahuan yang benar.
Masih
banyak pembagian lain yang ditawarkan oleh para filsuf. Akan tetapi, saat ini
pada umunya filsafat dibagi kedalam enam bidang studi atau cabang sebagai
berikut:
a.
Epistemologi
adalah filsafat tentang ilmu pengetahuan yang mempersoalkan sumber, asal mula,
dan jangkauan, serta validitas dan reabilitas (reability) dari berbagai klaim
terhadap pengetahuan.
b.
Metafisika
adalah filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, tentang hakikat yang
bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman dan pengamatan indra manusia.
Metafisika terdiri dari ontologi, kosmologi, teologi metafisik, dan
antropologi.
c.
Logika
adalah studi tantang metode berfikir dan metode penelitian ideal, yang terdiri
dari observasi, introspeksi, deduksi dan induksi, hipotesis dan eksperimen,
analisi dan sintesis.
d.
Etika
adalah studi tentang tingkah laku yang ideal. Termasuk dalam etika adalah
aksiologi.
e.
Estetika
adalah studi tentang bentuk ideal dan keindahan. Estetika sering disebut juga
filsafat seni (philosoplry of art).
f.
Filsafat-filsafat
khusus atau filsafat tentang berbagai disiplin seperti filsafat hukum, filsafat
sejarah, filsafat alam, filsafat agama, filsafat manusia, filsafat pendidikan
dan sebagainya.[3]
Dari
beberapa pandangan filsuf tersebut, sekarang filsafat memiliki beberapa cabang,
yaitu metafisika, logika, epistemologi, etika, dan estetika.
1.
Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang
membicarakan tentang yang ada atau membicarakan sesuatu dibalik yang tampak.
Metafisika tidak muncul dengan karakter sebagai disiplin ilmu yang normatif
tetapi tetap filsafat yang ditujukan terhadap pertanyaan-pertanyaan seputar
perangkat dasar kategori-kategori untukmengklasifikasikan dan menghubungkan
aneka fenomena percobaan oleh manusia.Persoalan metafisis dibedakan menjadi tiga, yaitu
ontologi, kosmologi dan antropologi.
· Ontologi
(Teori Alam dan Tipe-Tipe Realitas)
Ontologi merupakan salah satu
kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang
bersifat konkret atau realistis.
Hakekat kenyataan atau realitas bisa didekati ontologi dengan dua macam
sudut pandang, yaitu kuantitatif (menanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau
jamak?) dan kualitatif (menanyakan apakah kenyataan/realitas tersebut memiliki
kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga
mawar yang berbau harum).
Adapun teori Ontologi utama meliputi:
1. Materialisme à Objek-objek fisik yang ada mengisi ruang angkasa dan tidak ada yang
lainnya. Semua sifat fisik alami tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri.
2. Idealisme à Hanya pikiran/berpikir, spirit, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan
berpikir yang benar-benar nyata (konkret).
3. Dualisme à Keberadaan berpikir/pikiran dan material adalah nyata dan keduanya tidak
saling mengurangi satu dengan yang lain.
Kosmologi (Teori Umum Proses Realitas)
Kosmologi berkepentingan
terhadap cara berbagai benda dan peristiwa yang satu mengikuti cara berbagai
benda dan peristiwa lain menurut perubahan waktu (satu benda ditentukan oleh
benda lainnya). Satu benda atau peristiwa ditentukan oleh sebab sebelumnya dan
tidak dapat dibalik.
Determinan-determinan
dari peristiwa alam yang dianggap beroperasi dengan cara terakhir tersebut
dinamakan Aristoteles sebagai “sebab-sebab final” àfinal causes àdikenal sebagai antecedent causes.
Determinismemerupakan
pandangan tentang apapun yang terjadi bersifat universal, tanpa kecuali, dan
secara lengkap ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya. Bila pandangan ini
digabung dengan konsepsi materialisme, yaitu semua proses adalah fisik secara
ekslusif, maka pandangan deterministik ini dinamakan mekanisme. Deterministik
diakui dunia pendidikan internasional sebagai pendekatan yang powerful.
Selain pandangan
determinisme, kita perlu mengenal pandangan lain, yaitu teleologi. Teleologi
adalah proses yang dianggap ditentukan oleh aneka pengaruh atau sebab akhir (influenced
by ends).
Antropologi
Adalah ilmu yang menyelidiki tentang manusia yang
berkaitan dengan pertanyaan pertanyaan tentang hakikat manusia dan pentingnya
dalam alam semesta.
2. Logika
Logika adalah cabang
filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Logika membahas
tentang prinsip-prinsip inferensia (kesimpulan) yang absah (valid) dan
topik-topik yang saling berhubungan. Logika dibagi menjadi dua, yaitu:
1.
Logika
deduktif (deductive form of inference), yaitu cara berpikir di mana
pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir
silogismus. Pernyataan yang mendukung silogismus disebut premis.
Kesimpulan
merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua
premis tersebut (Suriasumantri. 1988: 48-49). Perkembangan logika deduktif
dimulai sejak masa Aristoteles, setelah kontribusi oleh Stoics dan para
logikawan lain pada zaman pertengahan, mereka mengasumsikannya sebagai garis
besar tradisi Aristotelesian
2.
Logika
induktif (inductive form of inference),
yaitu cara berpikir yang dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan
bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat khusus. Penalaran secara
induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang khas dan
terbatas kemudian diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Prinsip induktif mampu digunakan dalam ilmu
terapan pada masa John Stuart Mill dalam metodenya tentang analisis–sebab (causal
analysis) bersama dengan prinsip teori peluang dan praktek statistik yang
masih menjadi sumber-sumber utama penampilan buku tentang logika induktif.
Banyak para ahli
berpendapat bahwa sekalipun sejak 1940-an logika deduktif berkembang tetapi
masih belum menyamai taraf yang dicapai oleh logika deduktif. Dalam hal ini,
logika deduktif lebih powerful.
3. Epistemologi
Epistemologi (dari bahasa Yunaniepisteme =
pengetahuan dan logos = kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering
diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu
pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan
kebenaran dan keyakinan.
Epistomologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari
ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta
pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh
setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca
indera dengan berbagai metode, diantaranya metode induktif, metode deduktif,
metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
4. Etika
Etika adalah cabang
filsafat yang membicarakan tingkah laku (moral) atau perbuatan manusia dalam
hubungannya dengan baik ataupun buruk. Etika dalam kajian filsafatnya dapat
diberi arti sebagai tata krama dan sopan santun yang lahir dari pemahaman
perbuatan yang baik dan buruk serta sebuah tata aturan yang berlaku dalam
masyarakat yang menjadi sebuah kebudayaan yang wajib untuk taat dipatuhi.
5. Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang
keindahan. Estetika disebut juga sebagai “filsafat keindahan” (philosophy of beauty). Dalam Encyclopedia
Americana (1973). Estetika merupakan cabang filsafat yang berkenaan dengan
keindahan dan hal yang indah dalam alam dan seni.[4]
DAFTAR
PUSTAKA
Abdulhak, Ishak .1996. Filsafat Ilmu Pendidikan .Jakarta: PT
Grafindo Persada .
Ali Maksum.2011. Pengantar Filsafat.Depok.Ar-Ruzz Media.
Julian,Bagini,2002,Lima
Tema Utama Filsafat, PT Traju Mijan Publika. Jakarta.
Wardah.file:///C:/Users/vijar/Documents/AKU/Dunia%20Makalah%20%20Cabang%20Ilmu%20Filsafat.html.
[1]Julian,Bagini,2002,Lima
Tema Utama Filsafat, PT Traju Mijan Publika, Jakarta, 2002,hlm.03.
[2]Wardah,
file:///C:/Users/vijar/Documents/AKU/Dunia%20Makalah%20%20Cabang%20Ilmu%20Filsafat.html,
pada tanggal 11 April 2014 pukul 21.03
[4]Prof.
Dr. H. Ishak Abdulhak, M.Pd, Filsafat
Ilmu Pendidikan ,PT Grafindo Persada , Jakarta, 1996, hlm. 07.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar